Murid yang Tamat Berguru
Berikut
adalah cerita sufi tentang seorang murid yang telah tamat berguru.
Cerita ini seringkali disampaikan oleh Guru saya kepada murid-muridnya.
Biasanya cerita ini disampaikan kepada murid-murid yang masih tinggal
bersama Beliau di Surau.
Suatu
ketika anak surau yang berjumlah 35 orang itu dikumpulkan. Maklum, para
pengabdi itu pun sudah dewasa dan mereka juga memikirkan ujung
pengabdian. Mereka harus ke mana, mereka harus hidup berumah tangga,
mencari pekerjaan dan lain-lain. Guru bila bercerita sangat menarik,
mempesona dan membuat pendengar tak bergerak. Guru berkata, “Ada murid
yang baru tamat berguru lalu ia pulang ke rumahnya. Di tengah jalan
dilihatnya ada seorang putri raja yang aduhai cantiknya, sang putri
sedang duduk di depan rumahnya yang indah. Si murid ini sangat terpesona
dan tertarik dengan paras cantik putri itu. Dalam hatinya ia berkata,
“Alangkah eloknya jika ia jadi istri dan pendamping hidup saya…?”
Terangan-angan
paras gadis sampai di rumahnya, ia berkata kepada ibunya, “Ibu, anak
gadis yang saya jumpai di rumah indah di pinggir jalan itu apa sudah ada
yang punya?” Ibu menjawab, “Apa maksudnya?” ujar ibu menimpali
pertanyaan anaknya. Anaknya berkata, “Kalau belum ada yang punya, tolong
ibu lamarkan untuk saya.” “Sadar nak” begitu sergah ibunya. “Dia putri
raja, kaya raya, sedangkan engkau anak orang biasa dan miskin.”
Untuk
tidak mengecewakan anaknya yang baru lulus berguru dan pantas menikah
itu. Sebagai ibu yang bijaksana, sang ibu pergi mencoba bertanya. Ia
pergi ke rumah gadis tersebut. Maka ibu mengetok pintu sambil mengucap
salam “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikum salam”, jawab tuan rumah. “Ada apa
bu?” kata tuan rumah. “Ini anak saya kemarin lewat di depan rumah raja
kebetulan dilihatlah olehnya seorang gadis manis putri raja dan ia
merasa tertarik. Si anak baru tamat berguru pada wali Allah (tidak
disebut nama si wali), dan maksud kedatangan hamba kemari ingin melamar
anak gadis raja itu, bila raja berkenan dan bila putri itu belum ada
yang punya!”
Raja
memang bijaksana, untuk menolak dengan terang-terangan dan supaya tidak
menyakiti hati sebagian rakyatnya ia menjawab, “Oh, ibu mau melamar
untuk anak ibu. Begini bu, saya tidak bisa memutuskan sendiri, apakah
lamaran itu diterima atau tidak. Karena ini adalah masalah Negara maka
saya akan panggil dan mengumpulkan semua menteri untuk memutuskan hal
ini. Dan ibu sebaiknya pulang dulu dan barang seminggu sudah ada
keputusan.”
Sesampainya
di rumah, si anak bertanya “Bagaimana bu, beritanya?” “Oh tunggu
seminggu lagi nak, karena raja tidak bisa memutuskan seorang diri maka
raja akan panggil menteri-menterinya untuk membahas masalah ini.” Raja
memanggil menteri-menteri dan memberitahukan bahwa anak si ibu yang
bernama Fulana telah datang menemui raja dengan maksud ingin melamarkan
si anak pada putri raja dan bagaimana caranya supaya lamaran di tolak,
dengan tidak menyakiti hati ibunya.” “Ah itu mudah raja” jawab menteri.
“Buat saja persyaratan yang berat kepadanya yang sekiranya tidak dapat
dipenuhi.” “Nah apa itu?” kata raja. “Minta saja tujuh buah mutiara
sebesar telur, pasti ia tidak akan bisa memenuhi dan karena itu
persyaratan untuk mempersunting putri raja menjadi gagal.” “Wah pandai
kau menteri. Aku setuju dengan caramu itu, nanti akan aku katakan pada
ibu si anak itu jika ia datang ke sini untuk menanyakan keputusan raja.”
Benar saja seminggu kemudian pintu raja terketuk dan terdengar
“Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam”, pintu dibukakan dan si ibu pun
dipersilakan masuk untuk menanyakan bagaimana kabar beritanya. “Begini,
lamaran ibu diterima asalkan anak ibu menyiapkan tujuh butir mutiara
sebesar telur lalu diserahkan pada raja. Itu persyaratannya.” jelas
raja. “Kalau begitu saya beritahukan pada anak saya, sanggup atau
tidak.” jawab ibu. “Oh ya, ya silakan.”
Si
ibu pun pulang dari rumah raja, di pintu dia sudah disambut oleh anak
itu sambil bertanya, ”Bagaimana kabarnya bu?” ”Aduh itu nak, tujuh
turunan dari kakek sampai anak cucu, mencari duit untuk tidak dibuat
makan, tatapi dibuat untuk membeli tujuh butir mutiara sebesar telur
ayam itu tidak akan bisa terkumpul.” “Oh itu rupanya yang menjadi
persyaratan diterimanya lamaran saya Bu?” “Betul nak, itu mana mungkin.”
“Ah, Itu soal kecil, Bu!” tanggap anaknya. “Ha, soal kecil?” ibunya
terheran. “Allah Ta’ala kan kaya bu” kata si anak, dan si ibu
dibuat bingung mendengarnya. Si anak berkata, “Mutiara sebesar dan
sebanyak itu hanya ada di Laut Cina Selatan.”
Diam-diam
si anak keluar dengan membawa tempurung kelapa dan pergi ke Laut Cina
Selatan. Dia kuras laut itu dengan batok kelapa (tempurung kelapa)
sambil membaca: laa ilaaha illa Allah pada tiap kurasan, sehingga hampir
habis air laut itu(secara gaib). Tiba-tiba geger penghuni-penghuni
laut, berupa jin-jin penjaga laut itu dan mereka berteriak, “Stop…stop…!
jangan kau teruskan nanti kering laut ini dan matilah anak buah kami.
Sebenarnya apa yang engkau cari?” “Saya akan mencari tujuh butir mutiara
sebesar telur ayam dan mutiara itu hanya ada di laut ini. Karena itu
saya harus menguras dan mengeringkan laut ini.” begitu kata si murid
wali itu dengan tegas.
Panglima
jin penghuni laut itu berkata, “Kalau soal itu gampang, nanti saya akan
memerintahkan anak buahku untuk mencari mutiara-mutiara itu dengan
menyelami laut ini, dan tidak usah kau teruskan untuk menguras laut.”
“Nah kalau kau sudah menjamin begitu, baiklah akan saya hentikan
menguras laut ini.” Sesaat kemudian anak buah penghuni Laut Cina Selatan
itu diperintahkan menyelam ke dasar laut sampai ditemukan ketujuh batu
mutiara, lalu oleh penghulu jin mutiara itu disampaikan pada anak tadi
dan ketujuh butir mutiara itu dibawa pulang oleh anak tadi.
Sesampainya
di rumah, ibu menyapa “Sudah datang nak?” “Ya sudah datang dan ini
tujuh buah mutiara yang diminta raja” kata anaknya. Oleh ibunya ketujuh
butir mutiara itu di ambil dan ditimang-timang, dibalik-balik setengah
tidak percaya. Lalu si anak menyeletuk, “Itu mutiara asli, bukan batu
atau plastik bu!” meyakinkan pada ibunya. Sang ibu pun terdiam.
Esok
harinya si ibu mengantarkan ketujuh butir mutiara itu kehadapan raja.”
Assalamu’alaiku” “Wa’alaikum salam. Apa kabar bu?” “Kabar baik, dan ini
tujuh butir mutiara yang raja minta dari anak saya, saya disuruh untuk
mengantarkannya ke hadapan raja dan menyerahkannya.
Ketujuh
butir mutiara itu pun diterima oleh raja, si raja terbelalak kedua
matanya, terheran-heran hampir tidak percaya, seolah-olah dalam mimpi
saja. Di balik-balik mutiara-mutiara itu, terheran melebihi kehendaknya.
Raja terkagum diam. lalu si ibu berkata, “Tak usah khawatir raja, itu
asli mutiara, bukan palsu, batu, atau plastik mainan, kata anak saya.”
Raja pun terhentak dan akhirnya perkawinan pun dilaksanakan.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !